Minggu, 05 Februari 2012

Makanan yang sangat bermanfaat dan yg harus dihindari oleh orang bergolongan darah B

Kunci diet golongan darah B adalah keseimbangan. Orang bergolongan darah B tumbuh dan berkembang baik melalui apa yg telah disediakan oleh dunia hewan dan tumbuhan. Artinya, golongan darah B menunjukkan kemajuan yg canggih dalam perjalanan evolusinya, yaitu suatu upaya untuk menyatukan berbagai kebudayaan dan orang. Apabila anda mengonsumsi makanan dg komposisi seimbang antara daging, produk susu, serealia, dan sayuran, anda akan dapat mengendalikan berat badan dan mencegah penyakit-penyakit berat yg lazim pada kehidupan modern, seperti penyakit jantung dan kanker.

Diet anda dikelompokkan menjadi empat belas kelompok makanan. Pada setiap kelompok, makanan ini dibagi menjadi tiga kategori: SANGAT BERMANFAAT, NETRAL, DAN HINDARI. Maksud pembagian ini adalah
- SANGAT BERMANFAAT adalah makanan yg bertindak seperti OBAT.
- NETRAL adalah makanan yg bertindak seperti MAKANAN.
- HINDARI adalah makanan yg bertindak seperti RACUN.

Diet golongan darah B meliputi berbagai macam makanan, karena itu tidak perlu khawatir adanya pembatasan makanan tertentu. Bahkan anda dapat mengonsumsi makanan berkategori Sangat Bermanfaat lebih banyak daripada makanan Netral. Tidak ada salahnya bila anda menikmati makanan Netral karena makanan ini tidak merugikan, dan justru mengandung nutrisi yg bermanfaat bagi diet yg seimbang.

1. Daging dan Unggas

SANGAT BERMANFAAT

Daging kambing
Daging kelinci
Daging domba
Daging rusa
Daging domba dewasa






NETRAL 

Daging sapi
Daging pegar
Daging kerbau
Daging kalkun
Hati
Daging anak sapi
Daging burung unta


HINDARI

Daging asap
Jantung
Daging ayam
Daging kuda
Daging ayam betina comish
Daging ayam hutan
Daging bebek
Daging babi
Daging angsa
Daging pegar
Daging belibis
Daging anak burung dara
Daging ayam betina guinea
Daging tupai
Daging ham
Daging penyu
 

Rabu, 01 Februari 2012

Darah yang Telah Mengering

Semayup merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an hentakkan aku yang masih tetap terjaga, pagi ini. Ajaib atau memang sudah menjadi kebiasaan ? Aku belum tertidur dan mata pun enggan menunjukkan tanda-tanda ingin terlelap. Dulu aku sempat berpikir, kenapa dulu aku tidak kuliah di keperawatan saja, hingga untuk masalah piket malam, aku sangat sanggup. Bahkan seorang diri pun aku sanggup menjalaninya. Tentunya tanpa keluh. Lain ceritanya jika pasien membludak (jadi ingat mantanku yg seorang perawat, hahaha).

Sebenarnya yang menjadi masalah bukan karena aku tidak ingin tidur atau mengistirahatkan pikiranku sejenak saja. Akan tetapi, aku baru sadar ternyata aku sedang memikirkan betapa tidak nyamannya kumenyayangi dan mencintai seseorang (yg belum sempat kutemui karena antara) saat ini. Rabb_ku, aku hanya tidak ingin mendahului ketetapan-Mu. Bukankah masa depan masih dalam kegaiban? Sebaris kalimat itulah yg mampu menguatkanku ketika kumulai tak paham dg semua ini. Siapa yg berhak mengetahui nasibku kelak ? Aku hanya percaya pada-Mu Rabb_ku. Tuhan seru sekalian alam.

Ahhh, tidak,,, tidak,,,
 penyelesaian dari ketidakpahamanku bukanlah dengan air mata. Menangis bukanlah jalan. Itu hanya membuatku semakin terperangah akan kegamanganku sendiri. Tapi dia,,, dia sendiri telah jelas menunjukkan akan hal itu. Dan lagi-lagi aku merasa belum sanggup untuk mengutarakan ketidakmengertianku, karena aku dengannya hanya sebatas sahabat, meskipun keinginan untuk bersama tetap ada. Tapi, ahhh,, terserahlah. Aku hanya hidup untuk hari ini,
ya... untuk hari ini,
karena hari ini milikku.

Selasa, 31 Januari 2012

Analisis Intertekstualitas Puisi Kusangka karya Amir Hamzah dan Penerimaan karya Chairil Anwar

PENDAHULUAN

Hakikat Puisi
            Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rene Wellek dan Warren (1968, hlm. 25) mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya fungsi estetikanya dominan, yaitu fungsi seninya yang berkuasa. Puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan di dalamnya ada unsur-unsur estetiknya. Unsur-unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasanya. Gaya bahasanya meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetikanya atau aspek kepuitisannya (Pradopo, 1994, hlm. 47). Jenis-jenis gaya bahasa itu meliputi semua aspek bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu itu.

Hubungan Intertekstualitas
            Prinsip intertekstualitas ini merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (sajak). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu selalu menanggapi teks-teks lain yang ditulis sebelumnya. Dalam menanggapi teks itu, penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh horison harapannya, yaitu pikiran-pikiran, konsep estetik, dan pengetahuan tentang sastra yang dimilikinya.
            Prinsip intertekstualitas ini menempatkan para sastrawan (penyair) di tengah-tengah arus sastranya maupun sastra dunia (universal). Ia selalu menanggapi, meresapi, menyerap karya sastra lain dan mentransformasikannya ke dalam karya sastranya. Dengan demikian, ia selalu menciptakan karya sastra asli sebab dalam mentransformasikan teks lain itu si pengarang mengolah dengan pandangannya sendiri, dengan horison harapannya sendiri.
            Dalam kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstual antara suatu karya sastra dengan karya lain, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya banyak terjadi. Adanya hubungan intertekstual dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidaknya kaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain itu. Unsur-unsur hipogram itu berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap unsur hipogram pada suatu karya dari karya-karya lain, pada hakikatnya merupakan penerimaan atau reaksi pembaca.


PEMBAHASAN

Amir Hamzah:
                        KUSANGKA
            Kusangka cempaka kembang setangkai
            Rupanya melur telah diseri......
            Hatiku remuk mengenangkan ini
            Wasangka dan was-was silih berganti.

            Kuharap cempaka baharu kembang
            Belum tahu sinar matahari.....
            Rupanya teratai patah kelopak
            Dihinggapi kumbang berpuluh kali.

            Kupohonkan cempaka
            Harum mula terserak.......
            Melati yang ada
            Pandai tergelak.....

            Mimpiku seroja terapung di paya
            Teratai putih awan angkasa.....
            Rupanya mawar mengandung lumpur
            Kaca piring bunga renungan.....

            Igauanku subuh, impianku malam
            Kuntum cempaka putih bersih.....
            Kulihat kumbang keliling berlagu
            Kelopakmu terbuka menerima cembu.

            Kusangka hauri bertudung lingkup
            Bulumata menyangga panah Asmara
            Rupanya merpati jangan dipetik
            Kalau dipetik menguku segera.          
                                                            (Buah Rindu, 1959:19)
Chairil Anwar:

                        PENERIMAAN
            Kalau kau mau kuterima kau kembali
            Dengan sepenuh hati

            Aku masih tetap sendiri

            Kutahu kau bukan yang dulu lagi
            Bak kembang sari sudah terbagi

            Djangan tunduk! Tentang aku dengan berani

            Kalau kau mau kuterima kau kembali
            Untukku sendiri tapi

            Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
                                                                        (Deru Campur Debu, 1959: 36)


           
A. Analisis Isi Sajak
            Sajak Penerimaan – Chairil Anwar yang memiliki pandangan realistis sangat menentang pandangan romantik sajak dari Amir Hamzah – Kusangka. Keenam bait sajak Amir Hamzah – Kusangka, menunjukkan kesejajaran ide atau gagasan yang dimiliki. Dalam hal ini, Amir Hamzah membandingkan sosok gadis dengan bunga. Hal ini terbukti dengan digunakannya nama-nama bunga pada puisi tersebut yaitu bunga cempaka, melati, mawar dan teratai. Namun pada bait terakhir, sang gadis dimetaforakan sebagai hauri (bidadari) dan merpati.
            Sedangkan Chairil, membandingkan si wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak suci lagi itu diumpamakan sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi (‘bak kembang sari sudah terbagi’). Jadi, ini dekat dengan perumpamaan yang dibuat oleh Amir Hamzah: ‘Rupanya teratai patah kelopak / Dihinggapi kumbang berpuluh kali’ dan ‘Kulihat kumbang keliling berlagu / Kelopakmu terbuka menerima cembu’.
            Dari keenam bait sajak Kusangka, dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa si aku mencintai gadis yang disangkanya masih suci, namun kenyataannya telah pernah dijamah atau direnggut kesuciannya oleh beberapa pria. Kemudian si aku, hatinya remuk dan kecewa ketika mengingat semua itu dan rasa wasangka serta was-was pun datang silih berganti. Dengan demikian, si aku tidak berkeinginan lagi untuk mengambil sang gadis yang sudah tidak suci lagi itu untuk menjadi kekasihnya, sebab ia akan kena kuku ‘merpati’ itu.
            Kesimpulan isi sajak tersebut sangat berlawanan dengan kesimpulan isi sajak dari Chairil Anwar yang berjudul Penerimaan, yaitu dalam hal menanggapi gadis (wanita) yang sudah tidak suci lagi. Dalam sajak Penerimaan, dapat kita ambil kesimpulan bahwa si aku mau menerima si wanita kembali dengan sepenuh hati, sebab si aku masih sendiri dan juga masih mencintai si gadis yang tlah meninggalkan si aku tersebut. Meskipun si aku tahu bahwa si wanita sudah tidak seperti yang dulu lagi, yakni sudah dijamah oleh laki-laki lain selain si aku. Hal tersebut tidak menjadikan si aku merasa keberatan, bahkan si wanita tidak perlu merasa malu ataupun takut menghadapi si aku. Akan tetapi si aku kembali menegaskan bahwa ia mau menerima si wanita kembali. Tapi mutlak hanya untuk si aku saja si wanita tersebut, sebab ia tak ingin berbagi lagi dengan laki-laki lain maupun dengan cermin.

B. Hubungan Intertekstualitas
            Maksud dari hubungan intertekstualitas itu sendiri    yaitu sudah mencakup apa yang telah dipaparkan pada poin A yaitu analisis isi. Dalam poin tersebut menyatakan bahwa sajak Chairil Anwar – Penerimaan merupakan tentangan terhadap sajak Amir Hamzah – Kusangka. Kedua penyair itu memiliki pandangan yang berbeda. Bisa dilihat dari sajaknya yaitu Amir Hamzah dalam sajak Kusangka, sudah tidak memiliki keinginan lagi untuk mengambil si gadis (untuk dijadikan kekasih atau istri), sebab si gadis sudah tidak suci lagi. Sedangkan Chairil, dengan sikapnya yang realistis, mau menerima si gadis (wanita) kembali, meskipun telah pernah dijamah oleh laki-laki lain selain aku, namun si wanita mesti mutlak menjadi miliknya, tanpa harus berbagi dengan cermin sekalipun.

C. Analisis Gaya dan Gaya Bahasa
            Sajak yang dihasilkan oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar merupakan sajak dengan kualitas gaya tinggi. Namun untuk gaya bahasa yang digunakan, kedua penyair memiliki gaya tersendiri dalam membahasakan kata hatinya melalui baris-baris sajak. Dalam hal ini, Amir Hamzah menggunakan gaya bahasa yang romantis sehingga menjadi tidak padat, yakni mengurai panjang ide atau gagasan yang sebenarnya sudah ada dalam bait pertama dan keenam. Selain itu, ada beberapa majas yang digunakan dalam sajak tersebut yaitu majas asonansi, terletak pada bait ketiga ‘Kupohonkan cempaka, harum mula terserak / Melati yang ada, pandai tergelak’. Kedua, majas metafora terletak pada bait pertama ‘Kusangka cempaka kembang setangkai’. Cempaka di sini maksudnya ialah si gadis.
             Kemudian Chairil Anwar, dalam penggunaan bahasa sebenarnya juga masih menggunakan bahasa yang agak sedikit romantis. Meskipun demikian, dapat dilihat secara menyeluruh Chairil mempergunakan bahasa sehari-hari dengan gaya ekspresi yang padat. Tidak perlu mengurai panjang gagasan yang dimiliki, sebab pada bait pertama diulang dengan bait kelima. Tentang penegasan bahwa si aku mau menerima kembali si gadis (untuk menjadi kekasih atau istrinya). Hanya saja letak perbedaan bait kelima tersebut, yaitu menyatakan kemutlakan tentang keinginan si aku dalam menerima si gadis. Dan untuk majas yang digunakan ialah majas simile, yaitu membandingkan si wanita yang sudah tidak suci lagi dengan kata-kata pada baris kelima ‘bak kembang sari sudah terbagi’.

C. Aliran yang Digunakan
            Kemudian mengenai aliran yang digunakan oleh kedua penyair tersebut. Amir Hamzah menggunakan aliran romantisisme, sedangkan Chairil Anwar menggunakan aliran realisme. Dikatakan demikian, sebab seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa sajak Amir – Kusangka, menggunakan sikap romantik dalam puisi tersebut. Sikap romantik itu pun digambarkan melalui bahasa yang romantik pula, yakni bahasa yang sangat indah. Sedangkan Chairil dikatakan menganut aliran realisme, sebab dalam sajaknya tersebut, nampak jelas sikap realistis yang ditunjukkan oleh Chairil, yakni mau, kuterima, kembali, tetap sendiri, jangan tunduk, untukku sendiri, tapi, dengan cermin, aku, kau, enggan berbagi.

D. Perbandingan Dari Aspek Stilistika
            Stilistika adalah emosi itu sendiri. Tanpa emosi seorang pengarang tidak bisa menciptakan persamaan bunyi ‘putih bersih, ‘kau mau’. Kemudian pada bait keenam puisi Kusangka ‘ Bulumata menyangga panah Asmara’, aspek stilistika sastranya ditunjukkan melalui persamaan bunyi ‘a’ sehingga menimbulkan kualitas estetis. Sedangkan untuk puisi Penerimaan, aspek stilistika sastranya ditunjukkan melalui persamaan bunyi ‘u’ pada bait pertama ‘Kalau kau mau kuterima kau kembali’.

E. Prinsip yang Digunakan
            Prinsip yang dimaksud ialah prinsip ekuivalensi. Hal ini terlihat pada baris pertama sajak Penerimaan ‘Kalau kau mau kuterima kau kembali’. Ekuivalensi yang sangat menonjol adalah persamaan bunyi ‘u’ sebanyak lima kali, bunyi ‘k’ juga sebanyak lima kali. Sedangkan sajak Kusangka pada bait pertama //Kusangka cempaka kembang setangkai//. Ekuivalensi yang sangat menonjol adalah persamaan bunyi ‘k’ sebanyak lima kali.


Daftar Pustaka

Djoko Pradopo, Rahmat. Pengkajian Puisi. 2007. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kutha Ratna, Nyoman. Stilistika (Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya). 2008. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.